Dalam perjalanan, ku duduk di sebuah kereta menuju kota dimana aku melanjutkan pendidikan. Gelap malam menyelimuti perasaan. Dalam hati, ku mengakui bahwa benar adanya perasaanku ini sayang terhadapmu. Aku menimbun rasa rindu. Tapi, aku juga takut kamu mengetahui itu.
Kita bukan apa-apa melainkan teman. Rasa sayangku sebenarnya mengalahkan pemikiran bahwa aku hanyalah temanmu.
Kita bukan apa-apa melainkan teman. Rasa sayangku sebenarnya mengalahkan pemikiran bahwa aku hanyalah temanmu.
Aku paling tahu bagaimana diriku ini. Aku paling tahu dimana aku berpijak. Aku paling tahu dengan siapa aku bercengkrama.
Dirimu adalah salah satu alasan aku merasakan semua ini. Aku tidak ingin menghancurkan istana yang telah kubuat. Kokohnya bangunan itu berlandaskan rasa nyaman kita satu sama lain. Tapi aku tidak bisa hidup didalamnya jika aku punya keinginan yang tidak kesampaian.
Aku ingin kamu lebih dari sekedar temanku. Aku mencintaimu. Aku ingin menyampaikan itu semua. Aku ingin nekat. Tapi justru aku takut malah membuat keadaan semakin runyam.
Aku ingin kamu lebih dari sekedar temanku. Aku mencintaimu. Aku ingin menyampaikan itu semua. Aku ingin nekat. Tapi justru aku takut malah membuat keadaan semakin runyam.
Aku memahami dirimu yang baru saja kehilangan sesosok seseorang. Akupun hadir disaat kamu butuh tempat bersandar. Aku berusaha menguatkanmu.
Karena kamu seorang laki-laki.
Karena aku tidak pernah menginginkan untuk bertemu seorang lelaki yang apabila ia ku kenal, ku lihat, ku nilai, dirinya tidak sebagai sosok pria.
Karena aku seorang wanita.
Karena aku adalah aku.
Akan aku lakukan dan kukerjakan apapun yang aku kehendaki demikian.
Karena kamu seorang laki-laki.
Karena aku tidak pernah menginginkan untuk bertemu seorang lelaki yang apabila ia ku kenal, ku lihat, ku nilai, dirinya tidak sebagai sosok pria.
Karena aku seorang wanita.
Karena aku adalah aku.
Akan aku lakukan dan kukerjakan apapun yang aku kehendaki demikian.
Tapi disini, posisinya aku menginginkan itu semua. Di satu sisi aku ingin memilikimu saat ini. Disisi lain aku tahu bahwa kemungkinan untuk kehilangan akan selalu ada. Aku bukanlah orang yang bisa berjalan tanpa kepastian. Jika demikian, maka aku yang akan membuat semua menjadi pasti.
Intinya, aku tidak bisa memiliki perasaan cinta dan sayang terhadapmu tanpa sebuah status yang jelas, dan bukan hanya sebagai teman. Sebenarnya yang aku takutkan ketika aku mengungkapkan ini semua, justru membuatnya menjadi hancur. Karena, jika ingin bertahan, semua tak akan lagi sama. Aku tidak bisa untuk membuatnya menjadi biasa seolah tidak ada apa-apa. Maka lebih baik aku pergi sekalian, sambil membunuh perasaan.
Meskipun pada kenyataannya sulit untuk aku lakukan. Dalam benak aku bergumam jika ada saja kemungkinan bagi dirimu untuk tidak peduli atau tidak mau tahu terhadap semua ini. Namun, mau bagaimana lagi? Inilah aku. Entah apa aku bisa benar-benar pergi meninggalkanmu dan melepaskanmu? Aku hanya bisa mencobanya. Tapi, aku akan merasa bersalah jika aku pergi tanpa memberikan alasan dan penjelasan.